Beranda
Profil
Gambaran Umum Sejarah Pesantren Visi & Misi Muassis & Yayasan Struktur Kelembagaan
Pendidikan
MTs Islam Al-Kamal SMA/SMAS Islam Al-Kamal NW SMP IT Al-Kamal Madrasah Diniyah PAUD Al-Kamal
Dakwah & Informasi
Mada TV (Media Dakwah) Majelis Taklim & Dakwah Alumni & Tazkeeya Gen Kontak
Berita

TGH Mahalli Fikri Ingatkan Bahaya Lisan di Era Media Sosial: Diam Itu Emas

Diterbitkan: Agustus 08, 2026 Oleh: Admin

 

TGH. Mahali Fikri,SH saat Menyampaikan kajian subuh di IC NTB, Minggu (27/04/2025) (Foto: Youtube IC NTB)
TGH. Mahali Fikri,SH saat Menyampaikan kajian subuh di IC NTB, Minggu (27/04/2025) (Foto: Youtube IC NTB)

MATARAM – TGH Mahalli Fikri, SH mengingatkan umat Islam agar lebih berhati-hati dalam menjaga lisan dan tulisan, terutama di tengah maraknya penggunaan media sosial.

Pesan tersebut disampaikan TGH Mahalli Fikri dalam kajian Subuh di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, Mataram, yang disiarkan langsung melalui Pro1 RRI Mataram, Minggu (27/4/2025). Kajian tersebut mengangkat tema “Diam Itu Adalah Emas”.

Dalam tausiyahnya, TGH Mahalli menjelaskan bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari upaya seorang Muslim menjaga amal dan keselamatan dirinya. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik, atau diam.”

Menurutnya, pesan Rasulullah tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Jika dahulu ucapan disampaikan melalui lisan, kini perkataan juga dapat disebarkan melalui ketikan di media sosial.

Bahkan, menurut TGH Mahalli, seseorang dapat dengan mudah menyakiti orang lain hanya melalui komentar, unggahan, maupun pesan yang ditulis tanpa mempertimbangkan dampaknya.

“Keselamatan manusia bergantung pada kemampuan menjaga lisan. Karena itu, langkah awal menjadi pribadi yang saleh adalah belajar diam pada saat yang tepat,” jelasnya.

Jangan Sampai Amal Rusak karena Lisan

TGH Mahalli juga mengisahkan tentang seorang hamba Allah yang dikenal rajin beramal selama hidupnya, namun gagal dalam sebuah ujian karena tidak mampu menjaga lisannya.

Kisah tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa banyaknya amal tidak boleh membuat seseorang mengabaikan bahaya perkataan.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, seseorang harus mampu membedakan kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam. Sebab, perkataan yang tidak bermanfaat dapat menjadi sumber persoalan, bahkan menimbulkan dosa.

Ia juga mengingatkan jamaah terhadap kandungan QS An-Nisaa’ ayat 114 yang menjelaskan bahwa tidak banyak pembicaraan yang mengandung kebaikan, kecuali pembicaraan yang mendorong sedekah, perbuatan baik, atau perdamaian.

Setiap perkataan manusia juga tidak luput dari catatan. Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga bagian dari tanggung jawab seorang Muslim di hadapan Allah SWT.

Diam Bukan Berarti Tidak Berbuat

Meski demikian, TGH Mahalli menegaskan bahwa konsep “diam itu emas” tidak berarti umat Islam harus diam dalam seluruh keadaan.

Diam lebih utama ketika seseorang hendak mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat, menyakiti orang lain, menimbulkan permusuhan, atau mengantarkan kepada dosa.

Sebaliknya, ketika seseorang berzikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, mengajak kepada kebaikan, maupun menyampaikan kebenaran, maka berbicara justru dapat menjadi amal yang lebih utama.

“Diam itu hikmah, namun sedikit sekali yang melakukannya,” ujarnya, mengutip hadis riwayat Qadha’i.

Ia pun mengajak jamaah untuk menjadikan pesan tersebut sebagai pedoman dalam kehidupan, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuat seseorang harus semakin berhati-hati. Sebab, apa yang dahulu hanya terdengar oleh beberapa orang, kini dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Karena itu, sebelum menulis komentar atau membuat unggahan, umat Islam dianjurkan mempertimbangkan apakah tulisan tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan mudarat.

“Kalau ingin pahala jihad, puasa, dan amal lainnya tetap utuh, maka jagalah lisanmu. Itulah makna sejati dari ‘diam itu emas’,” tegasnya.

TGH Mahalli juga mengingatkan bahwa salah satu tanda diterimanya ibadah seseorang dapat terlihat dari perubahan perilakunya setelah menjalankan ibadah.

Termasuk setelah menunaikan ibadah haji. Menurutnya, kemabruran haji tidak hanya tercermin dari pelaksanaan rangkaian ibadah di Tanah Suci, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjaga lisannya dan memperbaiki akhlaknya setelah kembali ke tanah air.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berpendapat di media sosial, kemampuan untuk menahan diri dan memilih diam pada saat yang tepat merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.